Melayani Pembuatan Media Pengajaran Berbasis Multimedia

Karakteristik Beberapa Jenis Media Pembelajaran

Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi. Misalnya, Schramm melihat karakteristik media dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran yang dapat diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh pemakai (Sadiman, dkk., 1990). Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat indera. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai karakteristik media pembelajaran sangat penting artinya untuk pengelompokan dan pemilihan media. Kemp, 1975, (dalam Sadiman, dkk., 1990) juga mengemukakan bahwa karakteristik media merupakan dasar pemilihan media yang disesuaikan dengan situasi belajar tertentu.



Berdasarkan uraian sebelumnya, ternyata bahwa karakteristik media, klasifikasi media, dan pemilihan media merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran. Banyak ahli, seperti Bretz, Duncan, Briggs, Gagne, Edling, Schramm, dan Kemp, telah melakukan pengelompokan atau membuat taksonomi mengenai media pembelajaran. Dari sekian pengelompokan tersebut, secara garis besar media pembelajaran dapat diklasifikasikan atas: media grafis, media audio, media proyeksi diam (hanya menonjolkan visual saja dan disertai rekaman audio), dan media permainan-simulasi. Arsyad (2002) mengklasifikasikan media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil teknologi berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Masing-masing kelompok media tersebut memiliki karakteristik yang khas dan berbeda satu dengan yang lainnya. Karakteristik dari masing-masing kelompok media tersebut akan dibahas dalam uraian selanjutnya.

Media grafis. Pada prinsipnya semua jenis media dalam kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbul-simbul visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan. Karakteristik yang dimiliki adalah: bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang masalah apa saja dan pada tingkat usia berapa saja, murah harganya dan mudah mendapatkan serta menggunakannya, terkadang memiliki ciri abstrak (pada jenis media diagram), merupakan ringkasan visual suatu proses, terkadang menggunakan simbul-simbul verbal (pada jenis media grafik), dan mengandung pesan yang bersifat interpretatif.
Media audio. Hakekat dari jenis-jenis media dalam kelompok ini adalah berupa pesan yang disampaikan atau dituangkan kedalam simbul-simbul auditif (verbal dan/atau non-verbal), yang melibatkan rangsangan indera pendengaran. Secara umum media audio memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut: mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu (mudah dipindahkan dan jangkauannya luas), pesan/program dapat direkam dan diputar kembali sesukanya, dapat mengembangkan daya imajinasi dan merangsang partisipasi aktif pendengarnya, dapat mengatasi masalah kekurangan guru, sifat komunikasinya hanya satu arah, sangat sesuai untuk pengajaran musik dan bahasa, dan pesan/informasi atau program terikat dengan jadwal siaran (pada jenis media radio).

Media proyeksi diam. Beberapa jenis media yang termasuk kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam penyajiannya. Ada kalanya media ini hanya disajikan dengan penampilan visual saja, atau disertai rekaman audio. Karakteristik umum media ini adalah: pesan yang sama dapat disebarkan ke seluruh siswa secara serentak, penyajiannya berada dalam kontrol guru, cara penyimpanannya mudah (praktis), dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan indera, menyajikan obyek -obyek secara diam (pada media dengan penampilan visual saja), terkadang dalam penyajiannya memerlukan ruangan gelap, lebih mahal dari kelompok media grafis, sesuai untuk mengajarkan keterampilan tertentu, sesuai untuk belajar secara berkelompok atau individual, praktis dipergunakan untuk semua ukuran ruangan kelas, mampu menyajikan teori dan praktek secara terpadu, menggunakan teknik-teknik warna, animasi, gerak lambat untuk menampilkan obyek/kejadian tertentu (terutama pada jenis media film), dan media film lebih realistik, dapat diulang-ulang, dihentikan, dsb., sesuai dengan kebutuhan.

Media permainan dan simulasi. Ada beberapa istilah lain untuk kelompok media pembelajaran ini, misalnya simulasi dan permainan peran, atau permainan simulasi. Meskipun berbeda-beda, semuanya dapat dikelompkkan ke dalam satu istilah yaitu permainan (Sadiman, 1990). Ciri atau karakteristik dari media ini adalah: melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses belajar, peran pengajar tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah aktivitas interaksi antar pebelajar, dapat memberikan umpan balik langsung, memungkinkan penerapan konsep-konsep atau peran-peran ke dalam situasi nyata di masyarakat, memiliki sifat luwes karena dapat dipakai untuk berbagai tujuan pembelajaran dengan mengubah alat dan persoalannya sedikit saja, mampu meningkatkan kemampuan komunikatif pebelajar, mampu mengatasi keterbatasan pebelajar yang sulit belajar dengan metode tradisional, dan dalam penyajiannya mudah dibuat serta diperbanyak.
Sumber://artikel lengkap dapat dibaca di
http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/18/media-pembelajaran-arti-posisi-fungsi-klasifikasi-dan-karakteristiknya/
Share:

Perkembangan Media Pembelajaran

Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dashjhgar bahwa tak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan.

Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat meberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera pandang – dengar. Kalau kita amati lebih cermat lagi, pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (teaching aids). Alat bantu mengajar yang mula-mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat-alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar. Sekitar pertengahan abad 20 usaha pemanfaatan alat visual mulai dilengkapi dengan peralatan audio, maka lahirlah peralatan audio visual pembelajaran. Usaha-usaha untuk membentuk pembelajaran abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan.



Dalam usaha itu, Edgar Dale membuat klasifikasi 11 tingkatan pengalaman belajar dari yang paling konkrit sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama ”Kerucut Penglaman” (Cone of Experience) dari Edgar Dale. Ketika itu, para pendidik sangat terpikat dengan kerucut pengalaman itu, sehingga pendapat Dale tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk memberikan pengalaman belajar tertentu pada siswa. Pada akhir tahun 1950, teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat audio visual. Dalam pandangan teori komunikasi, alat audio visual berfungsi sebagai alat penyalur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Begitupun dalam dunia pendidikan, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyalur pesan belajar. Sayangnya, waktu itu faktor siswa, yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran, belum mendapat perhatian khusus.

Baru pada tahun 1960-an, para ahli mulai memperhatikan siswa sebagai komponen utama dalam pembelajaran. Pada saat itu teori Behaviorisme BF. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai hasil teori ini adalah diciptakannya teaching machine (mesin pengajaran) dan Programmed Instruction (pembelajaran terprogram). Pada tahun 1965-70, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian intregal dalam proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar.

Sumber://Artikel lengkap dapat dibaca di
http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/27/pengertian-fungsi-dan-peranan-media-pembelajaran/
Share:

Oh … Hormon dan Psikologi

Terus terang saya agak kesulitan menjawab persoalan yang dilontarkan pada saya. Siang itu teman saya, perempuan-cantik, mempersoalkan tentang hormon dan kerekatannya dengan psikologi. Dia menunjukkan kepada saya letak kerekatan ilmu psikologi dengan (entah) sesuatu yang berhubungan dengan hormon: daya rekatnya, variabel kerekatannya, jenis kerekatannya, dan seberapa besar variabel kajian tentang hormon ini memiliki kontribusi terhadap keilmuan psikologi.

Sekali lagi ini persolan ini diluar jangkauan saya. Satu sisi saya tidak memiliki landasan keilmuan psikologi, sisi lainnya persoalan terlalu mendadak. Nah, tapi hari ini saya ingin menulis tentang tema itu. Alih-alih membantu teman saya tadi, tulisan ini merupakan pembelajaran bagi saya.



Tapi, tulisan ini lebih banyak melihat persoalan epistimologisnya ketimbang melihat struktur keilmuan psikologi maupun hormon (mungkin cabang biologi atau kedokteran).

Daya Rekat

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama. Tak ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.

Ilmu psikologi memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan setiap manusia meliputi: faktor biologis & genetika (keturunan), faktor pola asuh, faktor lingkungan, faktor pendidikan, dan faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari). Kita mencoba melihat faktor biologis dan genetika, ini terkait dengan persoalan hormon dengan psikologi tadi.

Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.

Sekarang terlihat jelas polanya: hormon (bisa berupa kajian, teori, ataupun hukum) memiliki daya rekat, terutama pada pembentukan manusia yang unik. Daya rekatnya (hormon & psikologi) akan terlihat pada teori perkembangan psikologi, penampakan tanda- tanda sekunder pada manusia dan lainnya dan seterusnya. Rekat???? Iya keduanya akan memunculkan peran untuk menjelaskan sebuah fenomena. Misal, penampakan tanda-tanda sekunder pada manusia merupakan hasil dari produksi hormon tertentu, tapi pada saat bersamaan banyak gejala-gejala psikologis yang tampak di sana.

Variabel Kerekatan

Kalau keduanya rekat (hormon dan psikologi), lantas variabel mana saja yang membuat keduanya rekat. Sebelum jauh, saya mau bertanyan, apakah Anda pernah terkena sakit sariawan? Apa yang Anda lakukan?

Mungkin kita pernah berfikir sariawan terjadi karena kuarang vitamin C. Padahal sariawan tidak berhubungan langsung dengan asupan vitamin C yang kurang, tetapi dengan vitamin B12 (folat). Vitamin C membantu proses penyembuhannya. Padahal sariawan yang selalu dikaitkan dengan panas dalam oleh masyarakat, dapat merupakan manifestasi bermacam-macam penyakit. Bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Paling sering disebabkan kekurangan sayur-mayur dan buah-buahan. Luka akibat penyikatan gigi atau makanan yang keras dan tajam pun dapat menyebabkan sariawan. Stres dan hormon dapat menjadi faktor pemicu. Tidak sedikit orang yang sariawannya kambuh hampir tiap bulan atau setiap menjelang haid.

Baik, variabel pertama yang kuat tampaknya pada hormon dan stres. Hormon memiliki pengaruh terhadap stres pada manusia. Hipertiroid, alias kelebihan hormon tiroid, mungkin Anda pernah mendengar. Gejalanya sering berkeringat, mudah marah, merasa selalu panas, denyut jantung meningkat dan pernapasan juga meningkat per menit merupakan contoh rekatnya variabel hormon dan stres ini.

Stres bukan hanya monopoli orang dewasa. Remaja atau anak muda pun bisa terkena hal serupa. Sementara banyak orang yang tipenya cuek dan santai, namun tak sedikit pula yang tipenya mudah drop jika tertimpa masalah. Ini menjawab variabel kedua, yaitu stres dan perkembangan hormon dalam tubuh manusia. Makanya, sering orang bilang untuk menghilangkan stres olahlah tubuh(tubuh penuh dengan hormon). Cara yang juga oke adalah dengan berolahraga. Olahraga tidak hanya baik untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran.

Aktivitas fisik membuat tubuh melepaskan hormon endorfin yang bisa membuat merasa tenang dan nyaman. Selain olahraga, menghabiskan waktu dengan teman-teman juga menyenangkan.

Nonton, jalan-jalan ke mal atau makan di restoran bersama bisa membuat lebih santai sehingga stres terkendali.

Ah, saya sudah kehabisan nafas. Capai. Ditulis oleh : Teguh Triwiyanto, M.Pd
Share:

Lack of Understanding and Implementation of Attribution Theory inClassroom

Weiner’s attribution theory (1980, 1992) is probably the most influential contemporary theory with implications for academic motivation. It incorporates behaviour modification in the sense that it emphasizes the idea that learners are strongly motivated by the pleasant outcome of being able to feel good about themselves. Attribution theories of motivation describe how an individual, explains, justifies and/or excuses their own and other’s influences motivation (Woolfolk, 2004, p.354)

Bernard Weiner created the framework we use today in terms of achievement. According to Weiner, most of the causes to which students attribute their successes or failures can be characterized in terms of three dimensions: locus (location of the cause internal or external to the person), stability (whether the cause stays the same or can change), and responsibility (whether the person can control the cause).

Certain individuals in common class portray Attribution theories which are controlled in a negative light (Jessie Heath, 2007). Firstly, locus is related to an individual’s self-esteem. When a students’ learning failure is attributed to internal factors, self esteem can be diminished. Teacher doesn’t need to highlight that he or she was having difficultly with the Exposition task to the entire class, by asking one of the student’s work to others could also decrease one’s self-esteem. Another example shown in the classroom is most of the students lack a sense of self-esteem and competence. Students need a ‘re-assurance’. When a student is ‘unsure of herself’, and ‘reluctant to have a go Andrea is ‘frustrated ‘and ‘gives up easily if the work is too hard’.

Secondly, The stability dimension is related to expectations about the future. For example, when Ruth attributes her failure in a task, or subject to a stable factor such as subject difficulty, which is ‘external, stable and uncontrollable’ she is likely to presume she will fail that subject in the future. Thirdly, the controllability dimension is related to emotions. For instance when a student fails to complete task relating to Exposition text, he feels his failure is uncontrollable, and becomes aggressive, and angry. The student could feels helpless and is reluctant to attempt work he assumes he will not be able to complete tasks. Not producing any work is a major learning problem.



Must goal orientations that attainable

Goal orientations are patterns of beliefs about goals related to achievement in school. Goal orientations include the reasons we pursue goals and the standards we used to evaluate progress toward those goals (Woolfolk, 2004, p.359).

Goal setting has proven to be an effective way of ‘improving skills and striving to accomplish a task or activity’. By setting goals students are able to: - ‘direct their attention to the task at hand, mobilise effort, increase persistence and promote development of new strategies’ (Woolfolk and Margetts, 2007, p. 383). The lack of goal setting for the activity had a direct impact on the motivation of the students.

There are four main goal orientations –mastery (learning), performance (looking good), work-avoidance, and social (Murphy & Alexander, 2000; Pintrich & Schunk, 2002, as cited in Woolfolk, 2004, p.359). The main problems arisen in a classroom are the teacher is too goal oriented and the lack of goal setting for the activity had a direct impact on the motivation of the students. Firstly, teacher only wants to see the final result that the student able to go the high school with high mark. It seems that she disregard the process of learning and improving the student skills and knowledge in the classroom. She only wants a good result in reading, writing, math and other subject. Secondly, she set up the students with performance goals. The children found it difficult to relate to the subject, they misunderstand the topic and were unable to master the task; therefore students are made to look stupid and are no longer motivated to try next time.

*) Yusdi Maksum (yusdi.maksum@yahoo.com.au) The author currently studies Postgraduate Diploma in Education at The University of Newcastle Australia, graduated from University of Yogyakarta State.
Share:

Potongan APBN-P Versus Kualitas Pendidikan

Penelitian ini sedikit akan menggambarkan bagaimana variabel biaya berpengaruh terhadap capaian proses pendidikan dan pada gilirannya output pendiidikan.

Variabel input biaya pendidikan yang meliputi biaya pengadaan alat-alat pelajaran, biaya pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, biaya pengadaan prasarana pendidikan, dan biaya pembinaan kegiatan peserta didik (extracuriculer) memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap tingkat efisiensi proses pendidikan. Variabel proses pendidikan meliputi penguasaan bahan pendidik, kemampuan verbal pendidik, jam efektif mengajar pendidik, dan intensitas pemakaian perpustakaan. Biaya pengelolaan lembaga pendidikan memiliki hubungan tidak signifikan terhadap tingkat efisiensi internal proses pendidikan.


Jumlah pengeluaran biaya untuk penyelenggaraan pendidikaan sebagian besar dipergunakan untuk gaji/kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan (80.47%). Pengeluaran  terbesar setelah gaji, yaitu pengadaan sarana pendidikan (7.46%). Pengeluaran yang cukup besar, yaitu biaya pembinaan professional (4.32%), biaya pengelolaan lembaga pendidikan (3.91%), pengadaan alat-alat pelajaran (2.55%), dan biaya pemeliharaan sarana pendidikan (1.05%). Pengeluaran biaya pendidikan paling kecil, yaitu untuk pembinaan peserta didik (0.24%).





Biaya pengelolaan lembaga pendidikan mempunyai MRTS yang paling tinggii untuk meningkatkan pencapaian efisiensi internal proses pendidikan dan biaya pembinaan kegiatan peserta didik mempunyai MRTS yang tertinggi meningkatkan pencapaian efisiensi internal output pendidikan. Jika dibandingakn alokasi biaya, maka tampak bahwa alokasi biaya tidak tepat sasaran. Menaikkan biaya pengelolaan lembaga pendidikan dan menaikkan biaya pembinaan peserta didik akan menaikkan pencapaian efisiensi internal dan efisiensi output pendidikan.

Tulisan sejalan dengan temuan penelitian Fuller dan Clarke (McMahon.,et al., 2001:42) dan Fattah (2000:130) pada tingkat pendidikan dasar yang  menemukan input-input berikut yang memiliki pengaruh yang sangat signifikan pada prestasi yaitu antara lain: biaya pengadaan bahan pelajaran, biaya pembinaan siswa, dan biaya pengelolaan sekolah.

Nurhadi (1993:4) menyatakan efisiensi dalam proses pendidikan akan dicapai apabila produk pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dengan biaya (input) yang minimal, atau produk pendidikan yang diperoleh secara maksimal didapat dengan biaya (input) yang telah ditetapkan.

Nah, biaya pendiidkan yang sudah kecil; dipotong 15 persen, biaya gaji dimasukkan dalam 20 persen alokasi APBN. Kenapa bukan sektor lain yang dipotong?
Ditulis oleh: Teguh Triwiyanto, M.Pd(* Konsultan pendidikan (MA Sunan Pandanaran Sleman Yogyakarta)
Share:

Follow by Email

Label

Artikel (14) Belajar Media Kreatif (10) Media Pengajaran Interaktif (10) Media Pengajaran Kreatif (10) Media Pengajaran Multimedia (10) Pelatihan Mencipta Media (10) Software AudioVisual (8) Tutorial Media (6) Contoh Media (5) Data Workshop Media Pengajaran (5) Hasil Penelitian Media Pengajaran (3) Tempat Kegiatan Workshop (2) Akreditasi Madrasah (1) Akreditasi Sekolah (1) Attribution Theory in Classroom (1) BIMTEK PTK (1) Belajar Kreatif Mediatama Ngajnuk (1) Belajar Kreatif Mediatama Tulungagung (1) Belajar kreatif Tuban (1) Bimbel Les Skolastik (1) Bimbel TPS SBMPTN (1) Jadwal Kegian BKM (1) Kegiatan Belajar kreatif Ngawi (1) Kegiatan Bimbtek PTK (1) Kontak Belajar Kreatif Mediatama (1) Les Baca (1) Les Calistung (1) Les TPA SBMPTN (1) Lokasi Kegiatan Belajar Kreatif (1) M.Pd (1) Media Belajar Kreatif (1) Pelatihan Media Tulungagung (1) Pembuat Media Belajar di Trenggalek (1) Pembuatan Media Negara (1) Pengajaran Efektif (1) Privat Bimbel SBMPTN (1) Psikologi daya rekat (1) Seminar Media Belajar Negara (1) Seminar Media Belajar Ngajuk (1) Seminar di Ngawi (1) Seminar di Tulungagung (1) Tempat Privat SBMPTN (1) Workshop Belajar Kreatif Negara (1) Workshop Media Belajar Ngajuk (1) Workshop Media Belajar Ngawi (1) Workshop Media Belajar Tuban (1) Workshop Media Tulungagung (1) Workshop di Trenggalek (1) Yoko Rimi (1) academic motivation (1) adblock iklan (1) akreditasi online (1) akreditasi sekolah madrasah (1) anggaran pendidikan (1) bap (1) domain internet (1) domain nama negara (1) flashblock iklan (1) ikatan sosial rakyat (1) jenis media pengajaran (1) keunggulan rsbi (1) kritik mendidik (1) kualitas pendidikan (1) kualitas rsbi (1) kurikulum pendidikan (1) major learning problem (1) media pendidikan (1) media pengajaran (1) mru (1) pendidikan dari kiritk (1) pendidikan kartini (1) pendidikan liberal (1) pendidikan rsbi (1) power tools (1) power tools lite (1) proses akreditasi online (1) recopy file (1) rsbi mahal (1) sejarah media pengajaran (1) sekolah rsbi (1) sense of completion (1) sifat media pengajaran (1) teracopy (1)

Artikel Media

GAMBAR ANIMASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

GAMBAR ANIMASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR Zulaikhah Zulaikhah   Abstract   Abstrak Media gambar animasi yang berupa fil...